Seruan Solidaritas ‘Selamatkan Pandumaan-Sipituhuta’ [Indonesia]

poster save padumaan

Konflik agraria kembali terjadi di Indonesia: adanya pihak yg ingin menghancurkan lingkungan demi produksi massal, sedangkan yg lain berusaha untuk menghentikannya. Persoalan lama yg terus berulang. Mari kita terus melawan selama masih ada ketidak-adilan. Jika anda mencintai keindahan Indonesia dan berharap untuk dapat melihatnya dalam waktu yg sangat lama, maka anda tahu harus berdiri di sisi yg mana.

Kali ini konflik terjadi di Pandumaan dan Sipituhuta, dua daerah di Kabupaten Humbang Hasuhutan, Propinsi Sumatera Utara, di mana masyarakat adat Tano Batak hidup. Konflik terjadi setelah PT Toba Pulp Lestari memutuskan untuk mengganti Styrax benzoin milik rakyat di hutan Tombak Haminjon dengan pohon eucalyptus yg merupakan bahan utama dari produksi kertas.

Selama 13 generasi berada di tanah ini, masyarakat Pandumaan dan Sipituhuta telah menanam benzoin selama lebih dari 300 tahun. Pohon-pohon Styrax ini adalah sumber utama dari penghasilan mereka. Mereka juga memperlakukan tanah dan pohon dengan rasa hormat. Menurut penulis Limantina Sihaloho dalam artikelnya yg berjudul ‘Haminjon Batak’, salah satu tetua masyarakat adat mengatakan bahwa petani benzoin harus murni dalam ucapan dan perbuatannya, jika tidak maka pohonpohon tersebut tidak akan menghasilkan getah benzoin yg baik dan mereka –para petani ini– akan menemui kesulitan di hutan. Selama musim panen, para pria akan tinggal di hutan dalam beberapa hari, dan para wanita akan datang dengan membawa bekal makanan dari waktu ke waktu. Hutan tersebut menyatukan masyarakat adat di sekitarnya. Hutan haminjon yg penuh berkah dan inspirasi, juga diabadikan dalam lagulagu rakyat, sebagai pujian rasa syukur rakyat kepada Tuhan karena telah memberikan pohon dan tanaman yg dapat mendukung kehidupan mereka. Masyarakat adat ini juga memiliki rasa tanggung jawab spiritual untuk melindungi pohonpohon tersebut dari ulah manusia yg akan menyebabkan kerusakan bagi hutan mereka.

Masyarakat adat telah menolak keberadaan PT Toba Pulp Lestari, dan melawan kegiatan penyerobotan tanah yg dilakukan oleh korporasi di wilayah mereka, sejak tahun 2009. Sebuah komite khusus perwakilan rakyat telah memetakan batasbatas tanah dan meminta Kementrian Kehutanan Indonesia untuk meninggalkan hutan milik masyarakat adat. Namun sampai sekarang, belum ada dokumen hukum yg dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan untuk menanggulangi masalah ini, sedangkan pohon Styrax terus ditebang dan jalan setapak terus dibangun di dalam hutan.

Warga setempat telah membuat pengaduan dan melancarkan perlawanan fisik, dan barubaru ini kemarahan mereka tergambarkan melalui aksi pembakaran mesin penggalian perusahaan pada minggu terakhir di bulan Februari lalu. Sampai kini, 31 anggota komunitas adat Pandumaan dan Sipituhuta ditangkap. Sekitar 2.000 masyarakat adat di Tano Batak mendatangi Kantor Polisi Humbang Hasundutan dan mendesak pembebasan warga yg ditangkap.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara [AMAN] dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka sangat menyesalkan kejadian ini dan mengutuk keras aksi penangkapan yg dilakukan oleh aparat keamanan. Mereka mendesak PT Toba Pulp Lestari dan aparat keamanan untuk menghormati hakhak masyarakat adat di Pandumaan dan Sipituhuta, dan menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus mengambil tindakan nyata untuk mengatasi konflik ini. Selanjutnya, AMAN dan siapa saja yg telah memilih untuk berpihak pada rakyat menyerukan pembebasan semua anggota masyarakat adat Pandumaan dan Sipituhuta yg telah ditahan. Selain itu, kami meminta aparat keamanan untuk melakukan pekerjaan yg sebenarnya untuk mencegah kekerasan, menjaga perdamaian, dan melayani masyarakat dalam mencapai hakhak mereka.

BEKABULUH juga akan melakukan boikot terhadap produk PT Toba Pulp Lestari, termasuk merek Paper One. Perusahaan tersebut tidak mentolerir kegiatan merusak lingkungan, dan hanya akan melanjutkan untuk menggunakan produk tersebut setelah semuanya kembali ke etika bisnis yg bertanggung jawab.

Menyebarkan seruan Sihaloho: Selamatkan hutan benzoin, Selamatkan kearifan lokal. Selamatkan Pandumaan-Sipituhuta. Bersama kita bisa.

*via Bekabuluh*

>> VIDEO

This entry was posted in Berita Informal and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *