Surat dari 4 Tahanan Anarkis Terkait Perampokan Ganda di Velvento – Kozani [Yunani]

Catatan: Terdapat kesalahan dalam teks asli berbahasa Yunani [dan terjemahannya dalam bahasa Inggris] yg telah kami koreksi. Dalam paragraf terakhir, 4 kamerad yg tertangkap bingung membedakan antara kamerad Ryo dan Riyano. Ryo adalah seorang anarkis di Manado, Sulawesi Utara – Indonesia, yg menyerukan solidaritas internasional melalui aksinya di kelompok Negasi. Ryo ditikam hingga meninggal dunia. Di sisi lain, Riyano berasal dari Kalimantan dan meninggal dunia karena kanker kelenjar getah bening. Riyano aktif dalam jurnal anti-otoritarian/anarkis yg disebut Katalis, yg dimulai pada tahun 2008. Chaos bertahta, perlawanan terus berlanjut… Panjang umur Anarki!

Siang kami menghilang, tapi tidak dengan malam kami

Kami mencoba untuk kabur, sementara sedang dilakukan perburuan di sekitar kami. Di belakang kami terdapat kehidupan yg telah diatur, diukir oleh tangan penguasa, dengan tujuan untuk menginternalisasikan penyerahan kami sebagai kondisi obyektif, untuk melegitimasi moral sistem hukum, untuk menyamaratakan individu dengan logika statistik angka. Di depan kami, dunia fantasi ‘utopis’ yg kami raih dengan kekerasan. Satu kehidupan, satu kesempatan, dan penentuan pilihan.

Menatap celah di antara awan dan melompat, karena jatuh tidak pernah menjadi pilihan yg lebih pasti.

Pada hari Jumat, 1 Februari 2013, bersama dengan sekelompok kawankawan, kami melakukan perampokan ganda, di Agricultural Bank dan Kantor Pos di Velvento, Kozani. Menurut kami sangat penting untuk menganalisis, ke tingkat yg lebih luas, bagian operasional perampokan. Terutama dalam rangka untuk menyoroti semua elemen dari kasus ini, pilihanpilihan yg kami buat, kesalahan yg kami lakukan, dan alasan yg mendorong kami untuk melakukan hal tersebut:

Jadi, pada Jumat pagi, kami membagi diri menjadi dua tim untuk menyerang dua target sekaligus. Tujuan kami pada awalnya adalah mengambil uang dari brankas di masingmasing target, dan hal ini memang terjadi. Selama pelarian, serangkaian peristiwa naas dan penanganan yg keliru membuat kendaraan kami dikenali oleh polisi.

Ketika polisi mulai melakukan pengejaran, kamerad yg mengemudi van kami yg diubah tampilan luarnya sehingga terlihat seperti mobil ambulans, mencari jalan keluar bagi tim yg melakukan perampokan. Dalam upaya tersebut, ia melakukan kesalahan dengan mengemudikan mobil kami melewati kendaraan polisi sebanyak tiga kali, yg menyebabkan timbulnya kecurigaan polisi. Pengejaran pun dilakukan, karena ketidak-akraban dengan daerah yg dilalui, ia menemui empat jalan buntu, yg mengakibatkan terkepungnya kami oleh polisi –dan tidak mempunyai alternatif lain untuk melarikan diri. Dan akhirnya kami tertangkap. Mengetahui bahwa kawan kami telah tertangkap, maka pilihan yg tersedia bagi kami tidaklah banyak.

Oleh karena itu kami memutuskan untuk menghentikan kendaraan yg lewat, karena ini akan menjamin pelarian diri yg lebih aman bagi kami dan kawankawan kami. Masalah utama dalam pilihan ini adalah bagaimana caranya agar polisi tidak mencurigai kendaraan baru yg digunakan oleh kawankawan kami –jadi kami memutuskan untuk tetap berada di dalam van, sampai kami menemukan cara agar dapat melarikan diri juga. Namun kemudian terjadi pengejaran intens sampai kota Veroia setelah kami melewati sebuah mobil polisi, dengan sebagian besar unit kepolisian terlibat dalam pengejaran. Kami jelas tidak mempertimbangkan untuk menggunakan sandera sebagai perisai [kami tidak akan memiliki masalah, misalnya, kami harus menculik manajer bank] –bagaimanapun juga, polisi tidak mengetahui keberadaannya. Pada akhirnya, ia bertindak sebagai perisai bagi polisi, tanpa sepengetahuan mereka –sejak ia menyadari alasan mengapa kami tidak menggunakan senjata kami untuk melarikan diri. Karena kesadaran dan kode modal kami yg tidak memungkinkan untuk mencelakai kehidupan orang lain yg bertentangan dengan keinginan mereka.

Pada titik ini kami ingin menjelaskan bahwa kami tidak menggunakan senjata kami dengan tujuan untuk menakut-nakuti, tetapi digunakan jika akhirnya nanti kami bentrok dengan polisi. Oleh karena itu, alasan mengapa kami tidak bertindak dengan cara yg sesuai, untuk melarikan diri, adalah karena konsekuensi akibat kekeliruan pilihan kami.

Satusatunya pilihan untuk melarikan diri dalam situasi seperti ini adalah terus melaju dengan kecepatan tinggi. Kota Veroia tidaklah didesain untuk keadaan dan kondisi kami saat itu, dan kamipun terjebak di jalan sempit sehingga tertangkap oleh polisi. Selama penangkapan, satusatunya hal yg kami nyatakan adalah bahwa seseorang yg bersama kami waktu itu tidak ada hubungannya dengan perampokan. Meski demikian, polisi tetap saja terus memukulinya, setidaknya selama kami masih bisa berkontak-mata dengannya.

Narasi di atas bukan sarana untuk mempromosikan diri, tetapi untuk membalikkan legasi penangkapan tanpa perlawanan yg kami alami.

* * * * *

Narasi berakhir ketika kami berada di kantor polisi di Veroia, di mana para babi polisi itu menyiksa kami bertiga. Penyiksaan dilakukan dengan taktik seperti biasa: menutupi kepala kami, memborgol tangan, dan pemukulan.

Kami mengetahui adanya garis jelas yg memisahkan antara kami dan sistem [otoritas], yg menandai peran di antara dua dunia tersebut. Dunia kedaulatan, penindasan dan penyerahan diri, dan dunia kebebasan, yg kami ciptakan dan hidupi melalui perjuangan melawan otoritas.

Dalam perang ini, babibabi polisi menjadikan gerilyawan anarkis sebagai target permanen dan melakukan tindakan represif. Untuk alasan ini, kami menganggap sikap polisi terhadap kami adalah tugas dari negara. Kami akan lebih khawatir jika negara tidak melawan kami. Siksaan, sebagai metode, adalah senjata yg diberikan oleh otoritas untuk menyerang kami. Kami, tentu saja, sebagai anarkis, menolak untuk menggunakan metode siksaan untuk melawan musuh kami dan mempromosikan praktek politik “eksekusi”, karena kami tidak ingin untuk mereproduksi kebusukan dunia mereka, tetapi untuk menghancurkan dan menghilangkannya.

Opini orangorang dalam perjuangan di tangan mekanisme penindasan menginternalisasi ide kekalahn di tengahtengah lingkaran subversif. Ini adalah penerimaan dari konseptualisasi pembatasan perang melawan musuh kebebasan, sebagai bagian dari penerimaan moralitas dan legalitas kaum borjuis. Dan jelasnya, isyarat di atas berkenaan dengan pernyataan dari ANTARSYA atau AK [Gerakan Anti-otoritarian]. Yg berkontribusi untuk mereformasi, bukannya meradikalisasi. Kami tidak perlu merujuk kepada wartawan, SYRIZA, dan bagian lainnya dari sistem yg memberikan kami pernyataan yg “ramah” dalam rangka untuk mengalihkan kesadaran kami untuk tunduk dan melayani norma demi stabilisasi rezim mereka.

Sekarang, terkait cara untuk menghadapi praktekpraktek penyiksaan, respon kami terletak dalam tindakan polimorfik. Menyoroti kejadian tertentu khususnya aksi kontra-informasi seperti komunike, poster, pertemuan, demonstrasi, dll sangatlah diperlukan, untuk meningkatkan jumlah dari orangorang yg sadar dengan apa yg sedang terjadi saat ini. Sebuah kesimpulan untuk tidak membiarkan “insiden yg terisolasi” atau “perilaku revanchist” tapi mengarah ke pemahaman di mana kekerasan fisik selalu menjadi alat represi dan kontrol dalam masyarakat. Ini merupakan bagian dari perang antara kekuasaan dan pemberontakan.

Pesan ini harus tersebar luas dengan pesan teror bagi penyiksanya, polisi. Agar polisi tidak melayangkan pukulan, pencabutan intra-sistemik dan prosedur hukum tidak memiliki arti apapun –sementara mereka juga menyiratkan konsesi dan penerimaan informal dari otoritas hukum dan jurnalistik. Dibutuhkan resistensi –dan perlawanan harus berwujud dalam kekerasan juga. Karena serangan terhadap polisi –bukan hanya di Veroia– baik dengan batu, molotov, pistol, akan membuat mereka ragu untuk melakukan pemukulan. Karena seperti yg telah terjadi sebelumnya, babibabi ini punya nama dan alamat.

* * * * *

Kami tidak akan merujuk pada peran bank secara detail –dalam hal apapun, pada waktu yg telah diketahui oleh banyak orang. Eksistensi mereka adalah perampokan berkelanjutan. Bagi kami, sebagai anarkis, mereka adalah target dari serangan berupa: pembakaran, bom, dan perampokan. Tentu saja, ada banyak diskusi tentang kasus kami ini dan ada yg tidak meragukan kebutuhan kami untuk menginversi pengalaman ini. Untuk menyerang upaya desainifikasi terus-menerus atas pilihan kami, dan untuk menyoroti kebusukan pendekatan sosiologis dan latar belakang pseudo-kemanusiaan, yg mereka berikan kepada kami, karena usia [kami].

“Anakanak sebelah dan mereka menyerang bank. Kenapa?”

Karena perampokan adalah aksi kesadaran politik. Ini bukanlah kegelisahan masa remaja, usaha untuk memperkaya diri sendiri, atau bukan juga hasil dari kemalasan kami. Namun hal ini adalah keinginan kami untuk tidak terikat dalam eksploitasi brutal dunia kerja. Kami menolak untuk menjadi roda gigi bagi kepentingan kapitalisme. Kami melawan pengisian daya kebangkrutan mental dan nilainilai dunia mereka.

Kami jelas tidak menegasi kreativitas dalam komunitas kami. Merencanakan perampokan membutuhkan tenaga mental dan fisik. Namun kami menolak untuk memperbudak kreativitas kami ke dalam dunia produksi dan reproduksi tenaga kerja. Tentu saja, bagi kami menegasi perbudakan upah tidak akan berarti apaapa jika kami tidak menghancurkannya di saat yg bersamaan. Kami adalah anarkis dan kami tidak mencari simpati, kasih sayang, atau pemahaman karena kami bertindak “salah” di dunia yg [juga] “salah”. Kami menyebarkan nilainilai dan praktek kami, dan kami akan berjuang untuk hal tersebut sampai kata terakhir kami, hingga peluru terakhir kami.

* * * * *

Semua aksi agresif kami juga merupakan revolusioner total di semua tingkatan. Uang dari hasil perampokan ini tidak digunakan untuk membangun surga konsumen buatan. Ini hanyalah alat untuk memindahkan semua bentuk perjuangan. Mulai dari mencetak komunike, membeli senjata dan bahan peledak, untuk pendanaan struktur ilegal dari setiap bentuk pertahanan dan serangan, menyewa rumah untuk menyimpan bahan peledak yang akan kami gunakan untuk meledakkan perdamaian sosial mereka.

Tujuan kami adalah untuk menyebarkan aksi langsung melawan kondisi umum dari perbudakan hari ini. Baik dalam formasi gerilya, atau terangterang-an, satu lawan satu, dengan cara apapun yg kami anggap efektif, dengan cara apapun yg digunakan oleh masingmasing individu atau kelompok yg berkontribusi dalam perjuangan. Tujuan kami, dari setiap serangan gerilya, adalah penyebaran kesadaran revolusioner. Dalam rangka untuk berdiri dengan kesadaran penuh terhadap dunia perbudakan universal, melawan musuh yg terus berubah dari waktu ke waktu. Melawan kondisi seperti saat ini, perjuangan untuk kebebasan dan upaya untuk menggunakan elemen agresif dalam setiap aspek perjuangan anarkis sangatlah diperlukan.

Karena anarki tidak pernah bisa menjadi ide yg diterima di tengahtengah dunia saat ini; melainkan sebuah gesekan dan bentrokan yg tidak mengenal kata akhir. Hal ini tidak dapat membatasi diri untuk tidak berbahaya dan menerima ekspresi secara demokratis, atau fetisisme media –tetapi, lebih tepatnya, sebuah totalitas dari semua bentuk perjuangan. Setiap individu atau kelompok –sesuai dengan hasrat, niat, dan alasan mereka– memberikan kontribusi dalam bentuk dan cara apa saja, untuk kelanjutan perjuangan. Anarki adalah cara kami untuk mengorganisir diri, untuk hidup, dan berjuang. Ini adalah organisasi tanpa batasan, ini adalah perjuangan tiada henti. Ini adalah kebersamaan yg kami alami di dalam masyarakat yg memberontak melawan tatanan sosial yg busuk.

Sebagai penutup, kami ingin memberi salam kepada semua kamerad yg melakukan aksi langsung. Menempelkan poster, meneriakkan sloganslogan, mengorganisir pertemuan, bersolidaritas [dari dalam dan luar penjara]. Dan juga untuk mereka, yg saat ini, tengah mempersiapkan serangan mereka.

NB. 1. Kami juga ingin mengirim solidaritas kami untuk kamerad Spyros Dravilas yg tengah melakukan aksi mogok makan, yg berjuang dengan cara yg sulit dan menyakitkan untuk menghirup hawa kebebasan.

NB. 2. Beberapa saat yg lalu, kamerad Ryo dari Indonesia tewas dalam sebuah perkelahian. Ryo adalah seorang anarkis yg menyerukan solidaritas internasional melalui aksinya. Sekarang, meski ia tidak lagi hadir dalam setiap perjuangan, kami yakin bahwa kami akan selalu melihat ke arah bintang yg sama, bintang pemberontakan anarkis yg tiada henti. Kehormatan untuk kamerad Ryo.

Anarkis:

Nikos Romanos
Dimitris Politis
Andreas-Dimitris Mpourzoukos
Giannis Michailidis

*via webblog 325*

*teks di atas [dalam bahasa Inggris] juga dipublikasikan dalam jurnal/selebaran Dark Nights #31, Februari 2013*

This entry was posted in Aksi Langsung, Berita Informal and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *